Minggu, 24 September 2017

Kehidupan Mahasiswi di Negeri Sakura




 
Tochigi-Ken

Hidup jadi anak rantau di negara orang emang harus pinter untuk mengatur semuanya sendiri. Salah satunya adalah mengatur keuangan dan juga waktu sebaik mungkin. Biaya hidup di Jepang yang mahal, membuat gua harus bisa menahan mata supaya tidak membeli hal-hal yang tidak  diperlukan. Maklum, kadang kalau ada make up keluaran baru bawaannya mau beli. Well, gua akan cerita mengenai bagaimana enaknya hidup di negara orang sebagai pelajar asing. 

Dari dulu, gua emang udah punya mimpi untuk bisa merasakan bagaimana nikmatnya kuliah atau belajar di negara orang, dan alhamdulillah nya Allah mengabulkan doa gua. Pas dapat kabar bahwa gua akan study di jepang, awalnya ngga percaya. Tapi, pas gua cubit pipi temen gua dan  ternyata sakit , oke gua mikirnya berati emang nyata. Sangat bersyukur dan gua janji dalam hati untuk tidak mengecewakan diri sendiri ataupun orang tua. Pokonya tekad gua adalah belajar yang rajin dan tidak main selama di jepang ( kenyataannya gua menyelipkan waktu untuk main he he he ). Semuanya butuh usaha dan kerja keras sampai akhirnya gua bisa merasakan belajar di negeri sakura. Tapi, namanya juga manusia ada aja yang ngga suka sama rezeki gua untuk belajar di negeri sakura, selalu jadi bahan omongan beberapa orang. Gua sih bodo amat, toh mereka ngga pernah tau bagaimana kerasnya usaha gua untuk bisa mewujudkan apa yang gua mau, semuanya butuh perjuangan. 

Selama di Jepang, gua tinggal dan kuliah di Perfektur Tochigi-Ken,Shimotsuke-shi. Terletak di bagian utara Kanto dengan ibu kota Utsunomiya. Lumayan jauh dari Tokyo, butuh waktu 2 jam dari Tochigi menuju Tokyo,jika menggunakan kereta biasa. Beda lagi halnya kalo naik kereta super cepet shinkansen yang membutuhkan waktu 35 atau 45 menit dari Tochigi menuju Tokyo, atau sebaliknya. Dan gua kuliah di salah satu kampus yang terletak di Jichi. Yaps, gua kuliah di salah satu kampus yang terkenal dengan fakultas kedokteran dan perawatnya, dan termasuk salah satu kampus terfavorit di Tochigi. Kebetulan gua kuliah di jurusan psikologi. Di Jepang jurusan psikologi lebih banyak membahas dan fokus pada hal-hal klinis, dan punya peranan yang penting seperti dokter untuk pasien. 

Kebetulan gua tinggal di apartemen bareng dua teman gua. Kenapa gua memutuskan untuk tidak tinggal di dormitory. Alasannya karena biayanya ngga jauh beda sama gua tinggal di apartemen, terus kalau di apartemen ada  peraturan untuk jam keluar atau masuknya, sedangkan beberapa mesin pembeli makanan di asrama ngga menjual makanan halal, dan tiap malem gua selalu lapar. Jadi keputusan untuk tinggal di apartemen jauh lebih enak sih, karena ketika lapar tengah malam gua akan keluar untuk beli makan. Penyesuain jam kuliah yang super padet mulai dari jam 07.00 pagi sampai jam 21.00 malam gua baru selesai. Belum lagi jika ada rapat untuk pertemuan antara dokter,perawat dan psikolog untuk membahas mengenai pasien dengan penyakit tertentu, atau pasien yang sudah terlalu lama di rumah sakit atau hasil setelah operasi,dsb. Bisa diperkirakan gua akan tiba di apartemen dengan berjalan kaki pukul 22.30 malam. 

Tingkat disiplin yang begitu tinggi, dan bagaimana orang-orang Jepang sangat menghargai waktu, membuat gua menerapkan hal yang sama. Untuk selalu datang tepat waktu, bangun pagi, selalu membiasakan merapikan sesuatu dimanapun, dan harus bisa melakukan self service ketika belanja di mall atau supermarket. Karena gua menjalaninya dengan ikhlas, jadi semau terasa menyenangkan. Meski harus bangun pagi dan pulang malem setiap harinya, meski harus makan ramen atau miso setiap jam istirahat ( karena cafetaria kampus tidak menyediakan makanan halal ) gua benar-benar menikmati setiap hal tersebut. Di kampus hanya ada beberapa pelajar muslim, termasuk gua dan beberapa teman dari timur tengah, dan bisa dihitung menggunakan jari berapa banyak pelajar muslim yang memggunakan hijab. 
  

Kalau kalian mampir ke Jepang, cobalah sesekali mengunjungi Tochigi. Ada banyak wisata yang menarik. Tokyo, Osaka sudah terlalu mainstream hehe. Nanti akan aku bahas mengenai wisata di Tochigi..

4 komentar:

Lidha Maul mengatakan...

wuahhh, bersyukurnya studynya bisa di Jepang. Tetap semangat, keep istiqomah dan cerita2 Jepang di blog. Eh, tetap sehat juga. Moga bisa nemu makanan halal. Atau oneday bikin sendiri.
Salam kenal.

Nuraini Zulfah mengatakan...

Hallo mba lidha,salam kenal juga :). Alhamdulillah skrg sdh bisa menemukan makanan halal mba hehe. Terimakasih sudah berkunjung membaca.

Andi Cintana mengatakan...

Waaah enak banget bisa ngelanjutin studi di Jepang. Aku juga berencana ngelanjutin studi di negeri tersebut. Di tunggu mbak post tentang Jepang lainnya ^^

Nuraini Zulfah mengatakan...

Hallo mba andi. Terimakasih sudah berkunjung membaca. Wah mau melanjutkan S2 jurusan APA mba? Aamiin Ku doakan secepatnya ya mba bisa segera studi di sini :)!